Home


"Barangsiapa yang tidak mau bersabar mengecap pahitnya menuntut ilmu, niscaya sisa usianya akan berada dalam kebodohan... Dan barangsiapa yang bersabar dalam menuntut ilmu, niscaya ia akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat..." [Kitab Al Majmu' : 1/38]
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 September 2012

MENGUBAH DENGAN KEKUATAN TAULADAN


Rasulullah SAW gemilang menyeru ummat ke jalan-Nya, mengubah karakter ummat dari zaman kegelapan menuju jalan penuh cahaya yang ditempuh hampir 23 tahun.  Salah satu pilar strategi keberhasilannya adalah karena Rasul memiliki kekuatan suri tauladan yang sungguh luar biasa.  Yakinlah bahwa cara paling gampang mengubah orang lain sesuai keinginan kita adalah dengan cara menjadikan diri kita sebagai media atau contoh yang layak ditiru.

PANCARAN PRIBADI BERSIH HATI


       Yakinlah bahwa jikalau hati kita jernih, bening, dan tulus maka wajah juga akan enak dipandang, akan ada suatu kesan tersendiri yang lain dari yang lain. Mungkin wajahnya tidak cakep, tidak jelita, mungkin kultinya hitam, mungkin hidungnya tidak begitu mancung, mungkin alisnya kurang begitu simetris, mungkin di wajahnya ada kekurangan, katakanlah ada cacatnya tapi tidak bisa dipungkiri bahwa kalau hatinya bening, jernih, dan tulus ia akan senantiasa memancarkan sinar keindahan, kesejukan dan kenyamanan.

Jumat, 20 April 2012

Rambu-rambu dalam bertanya



Sebagai muslim kita sangat dituntut untuk mengetahui dan memahami banyak persoalan dan ilmu pengetahuan. Semakin banyak ajaran Islam yang kita pahami insya Allah semakin banyak pula yang bisa kita amalkan, karena mengamalkan ajaran Islam itu harus didahului dengan pemahaman yang utuh. Sementara semakin sedikit yang kita pahami dari ajaran Islam, maka akan semakin sedikit pula yang bisa kita amalkan, apalagi belum tentu semua yang kita pahami dari ajaran Islam secara otomatis bisa kita amalkan dalam kehidupan ini.
Banyak cara yg bisa kita lakukan untuk mengetahui dan memahami suatu persoalan termasuk di dalamnya ajaran Islam. Salah satunya adalah dengan bertanya. Karena itu, bertanya menjadi sesuatu yang amat penting. Bahkan pribahasa kita menyebutkan “Malu bertanya sesat di jalan.”

Rabu, 11 Januari 2012

لا تغضب ولك الجنة

 khutbah Bahasa Arab:
أقول لكم أيها الإخوة : السلام عليكم ورحمة الله وبر كاتة
إن الحمد لله نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله.
- (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ ) {سورة أل عمران: 102}
- (يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا ) {سورة النساء: 1}
- (يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا) {سورة الأحزاب: 70-71}.
أما بعد....
فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللَّهِ وَإِنَّ أَفْضَلَ الْهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ.
اخواني في الدين رحمكم الله
فقد قال رسول الله صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في حديثه:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِي قَالَ لَا تَغْضَبْ فَرَدَّدَ مِرَارًا قَالَ لَا تَغْضَبْ.
اخواني في الدين رحمكم الله
فقد ذكر هنا أحد من مسالك الوصول إلى الجنة, وهو كظم الغضب. وقد قيل أن رجلا الذي استوصى النبي صلى الله عليه وسلم هو ابو درداء رضي الله عنه, فقد قال: يا رسول الله, دلني على عمل يدخلني الجنة..!! فقال: لا تغضب ولك الجنة (اخرجه الطبراني)
اخواني في الدين رحمكم الله
فإن المسلم انسان يتصف بمكارم الأخلاق, ويتجمل بالحلم والحياء, ويلبس ثوب التواضع والتودد إلى الناس. وتظهر عليه ملامح الرجولة. لذلك فلا ينبغى للمسلم أن يفضي غضبه وغيظه لأنه من رذائل الاخلاق وخوارم المروءة, فإن الغضب يجمع الشركله, ومن لم يغضب فقد ترك الشركله, ومن ترك الشركله فقد حصل الخير كله.
وقال الحسن البصري رحمه الله :" أربع, من كن فيه,عصمه الله من الشيطان وحرمه على النار, من ملك نفسه عند الرغبة, والرهبة والشهوة, والغضب ".
فاعلموا أيها الإخوة ..!! أن سرعة الغضب والانقياد له, عنوان ضعف الإنسان, ولو ملك السواعد القوية, والجسم الصحيح. هذا مصداقا لقوله رسول الله صلى الله عليه وسلم : لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ. (رواه متفق عليه)
اخواني في الدين رحمكم الله
وأما معالجة الغضب, فيكون بأمور كثيرة أرشدنا إليها الإسلام, منها:
1. أن يروض نفسه ويدربها على التحلي بمكارم الأخلاق, كالحلم والصبر والتثبت في الأمور والتأني في التصرف الحكم.
2. أن يثبت نفسه ويضبطها إذا أغضب, ويتذكر عاقبة الغضب, وكظم الغيظ, والعفو عن المسيء.
كما قال الله تعالى في القرأن الكريم :( ....وَالْكَاظِمِينَ الْغَيْظَ وَالْعَافِينَ عَنِ النَّاسِ وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ ) {سورة أل عمران: 134}. وهذان صفتان من أوصاف المتقين الذي وعدهم الله الجنة.
ثم وعد الله عباده الصابرين بقول رسوله الكريم صلى الله عليه وسلم, أَنَّه قَالَ: مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَلَى رُءُوسِ الْخَلَائِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ فِي أَيِّ الْحُورِ شَاءَ. (رواه أبوداود)
3. الاستعاذة بالله من الشيطان الرجيم, قال الله تعالى: ( وَإِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللَّهِ إِنَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ) سورة الأعراف: 200
وفي رواية البخاري ومسلم, اسْتَبَّ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, وَنَحْنُ عِنْدَهُ جُلُوسٌ وَأَحَدُهُمَا يَسُبُّ صَاحِبَهُ مُغْضَبًا قَدْ احْمَرَّ وَجْهُهُ. فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنِّي لَأَعْلَمُ كَلِمَةً لَوْ قَالَهَا لَذَهَبَ عَنْهُ مَا يَجِدُ لَوْ قَالَ أَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ.
4. تغيير الحالة التي هو عليها حال الغضب,فقد روى أحمد وأبو داود, عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَال أن رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَنَا, إِذَا غَضِبَ أَحَدُكُمْ وَهُوَ قَائِمٌ فَلْيَجْلِسْ فَإِنْ ذَهَبَ عَنْهُ الْغَضَبُ وَإِلَّا فَلْيَضْطَجِعْ.
وذلك لأن القائم متهيء للانتقام وأقرب إليه, والجالس والمضطجع أبعد عنه.
5. ترك الكلام, كما قال النبي صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إذا غضب أحدكم فليسكت. (رواه أحمد والترمذي)
6. الوضوء, وذلك أن الغضب يثير حرارة في الجسم, والماء يبرده فيعود إلى طبعه, كما قال رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في خطبته : (.. أَلَا إِنَّ الْغَضَبَ جَمْرَةٌ تُوقَدُ فِي جَوْفِ ابْنِ آدَمَ) رواه أحمد و الترمذي
اخواني في الدين رحمكم الله
هذه هي خطبتي, إذا وجدتم مني الأخطاء أستعف منكم كثيرا, هداني الله وإياكم إلى صراطه المصتقيم. والأخير...
السلام عليكم ورحمة الله وبر كاتة

Selasa, 03 Januari 2012

AMALAN-AMALAN PENGHIAS HATI

Upaya untuk memperbaiki amalan hati termasuk hal yang sangat penting dan kewajiban yang sangat ditekankan serta merupakan taqarrub dan ketaatan yang mulia dalam agama kita. Seorang ulama yang bernama Ahmad bin Hasd ditanya, amalan apakah yang paling afdhal, beliau menjawab: "Apabila seseorang berusaha menjaga rahasianya, menjaga hati dan jiwanya agar tidak berpaling dari Allah SWT"
Sepantasnyalah setiap muslim untuk selalu memperhatikan hatinya, berusaha memperbaiki hatinya, menegakkan hatinya untutk senantiasa berada ditempat-tempat yang dicintai dan diridhoi oleh Allah SWT serta menghilangkan dan membersihkan hati dari segala hal-hal yang tidak diridhoi oleh Allah SWT. Amalan-amalan hati itu banyak macamnya, di antaranya:
1. Mengikhlaskan agama dan ketaatan kepada Allah SWT.
2. Selalu bersifat nasehat dan setia kepada Allah SWT, begitu juga kita hendaknya selalu memberi nasehat kepada para hamba-hamba Allah, berbuat baik pada mereka dan hendaknya kita selalu membersihkan hati kita terhadap manusia dari segala macam sifat dengki, iri hati dan lain-lain.

3. Selalu berusaha untuk menghadirkan rasa takut dalam berdzikir kepada-Nya. Mengkhusyu'kan hati kita pada saat mendengarkan ayat-ayat Allah sebagaimana firmanNya dalam surah Al-Anfal ayat 2.
4. Bagaimana kita memantapkan rasa tawakkal kita pada Allah SWT kita menyandarkan diri sepenuhnya kepada Allah Segala urusan, kita serahkan pada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah QS. Mu'min ayat 44 "…. Dan aku menyerahkan urusanku kepada Allah, sesungguhnya Allah maha melihat akan hamba-hambanya".Ada seorang ulama mengatakan bacaan ini bagus dijadikan do'a apabila kita merasakan ada ancaman-ancaman yang membahayakan . Termasuk juga bacaan yang bagus dibaca, saat rasa takut menimpa kita ialah: "Cukuplah Allah bagi kami dan Dialah sebaik-baik pelindung". Begitu juga pada saat kita merasa kesukaran, kehidupan yang sempit, atau urusan kita selalu sukar atau sulit, bacaan yang bagus dibaca adalah doanya nabi Yunus ketika dia berada didalam perut ikan. Artinya :"Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang dzalim "(QS.Al-Anbiya:82). Ada seroang sahabat bertanya; Ya Rasulullah, apakah do'a ini hanya diperuntukkan kepada Nabi Yunus ? Rasulullah bersabda : Bahasanya do'a ini untuk semua orang-orang beriman. Jadi amalan hati yang baik adalah tawakkal. Dalam sebuah kitab : Tawakkal ibarat seekor kuda yang diberikan beban yang berat, lalu ia hanya bisa duduk dan diam tidak bisa bergerak, dia hanya pasrah kepada tuannya, begitulah seharusnya kita terhadap Allah SWT, pasrah dan berserah diri pada-Nya. "Tiada daya dan kekuatan hanya milik Allah" "Siapa yang benar-benar bertawakkal pada Allah, maka Allah cukuplah baginya". Tapi disini juga kita dianjurkan untuk berusaha terlebih dahulu, sebelum bertawakkal.
5. Takut pada Allah diwaktu sendiri, maupun ditengah-tengah orang banyak.
6. Ridho pada Allah, Tuhan kita ; Islam sebagai agama kita dan Muhammad sebagai Nabi dan utusan Allah. Menerima semua aturannya dan segala konsekuensinya dengan hati yang ridho.

7. Kesiapan kita untuk menderita dengan penderitaan seberat-beratnya, itu lebih baik kita pilih dari pada kafir terhadap Allah.

8. Perasaan seorang hamba yang selalu merasa dekat pada Allah.
9. Selalu merasa adanya kehadiran Allah disetiap kehidupannya, contoh: ketika Nabi Yusuf dipenjara, beliau tidak pusing atau benci, malahan dia berdakwah dalam penjara, karena dia merasa kehadiran Allah disetiap waktu dan hidupnya. Tapi kita juga tidak boleh berfaham (dari kalimat Allah itu dekat) bahwa Allah dimana-mana, maksud dari Allah itu dekat bukan zatnya tapi ilmunya, penglihatannya, pengawasannya. Adapun Allah itu Maha Tinggi dan tidak ada satupun diatasnya.
10. Lebih memilih kecintaan kepada Allah dan RasulNya, dari pada kecintaan selain keduanya.

11. Cinta karena Allah dan benci karena Allah. Dalam satu hadits Nabi menyatakan: Ada 3 hal, jika ke-3nya dimiliki maka kita akan merasakan manisnya beriman, yaitu: " Ia mengutamakan lebih mencintai Allah dan Rasul-Nya. " Mencintai seseorang/sesuatu karena Allah. " Ia benci kembali pada kekafiran sebagaimana ia benci dilemparkan kedalam neraka.
12. Memberi karena Allah dan menahan karena Allah.

13. Segala gerak kita, diam kita selalu diperuntukkan karena Allah dan kelapangan hati kita dalam mentaati Allah baik berupa harta, badan dan tenaga kita.
14. Merasa senang dan gembira kalau sempat melakukan kebaikan dan perasaan sedih jika ia melakukan dosa dan hal-hal yang dilarang oleh Allah SWT. Siapa yang memiliki sifat ini, maka ia telah memiliki bibit keimanan dalam hatinya.

15. Sifat hati yang sangat mulia, kalau seseorang itu selalu memberikan kepeduliaan kepada orang-orang beriman baik harta maupun tenaga. Siapa-siapa yang mempunyai perasaan sedih atas penderitaan orang-orang beriman, ini berarti tanda-anda adana keimanan dalam hatinya.

16. Sifat hati yang mulia; banyak perasaan malunya, terutama malu melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya dilakukan. " Malu termasuk bagian dari iman. " Iman dan malu selalu bergandengan.

17. Akhlak yang baik (khusnul Khuluk), amalan hati yang sangat baik dimana dia mencintai orang lain seperti dia cintai pada dirinya sendiri.

18. Merasa kecewa jika ada perbuatan maksiat yang dilakukan ditengah-tengah kita, juga kita tidak condong/berpijak/mengidolakan orang-orang kafir. Dalam suatu hadits Nabi bersabda : "Seseorang itu bersama idolanya di akhirat, maka jadikanlah idola kita Rasulullah, sahabatnya dan orang-orang shaleh, siddiqin, syuhada". Inilah amal-amal yang selalu menjadi pusat pandangannnya Allah terhadap hamba-hamba-Nya. Dalam satu hadits Nabi : "Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk tubuh kamu, roman muka kamu, tetapi yang Allah pandang adalah hati kamu". Perkataan ulama bernama Abu Hafsah : " Apabila engkau duduk dihadapan manusia, maka hendaklah kamu menasehati hati kamu, jangan kamu tertipu dengan banyaknya oang dihadapan kamu, karena sesungguhnya mereka itu hanya melihat/memperhatikan kamu secara lahiiahmu, namun Allah selalu melihat hatimu". Perkataan Umar bin Abdul Azis: "Andaikata kita tidak boleh memberi nasehat, kecuali kalau kita sudah sempurna, maka tidak ada orang yang akan memberi nasehat" Perkataan syekh Ibrahim: "Jangan sampai kita menyatakan kita tidak ingin berda'wah, karena kita belum sempurna, kata beliau; kewajiban kita pada ilmu ada 2 yaitu mengamalkan dan menyampaikan".

Kesimpulan :
Marilah kita berusaha meramaikan hati kita dan memperbanyak dalam hati kita amalan-amalan yang tidak dilihat manusia, tetapi Allah sangat memperhatikan amalan hati itu.

Sudahkah engkau memuliakan orang tuamu..???

Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tua, ibu bapaknya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah dan bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS Luqman: 14)
Mahasuci Allah Dzat yang tak pernah bosan mengurus semua hamba-Nya. Yang telah menjadikan amalan memuliakan orang tua (birul walidain) sebagai amalan yang amat dicintai-Nya. Demi Allah, siapa pun yang selalu berusaha untuk memuliakan kedua orang tuanya, niscaya akan Ia angkat derajatnya ke tempat paling tinggi di dunia maupun di akhirat.

Alangkah tepat andai firman Allah tersebut kita baca berulang-ulang dan kita renungkan dalam-dalam. Sehingga Allah berkenan mengaruniakan cahaya hidayahnya kepada kita, mengaruniakan kesanggupan untuk mengoreksi diri dan mengaruniakan kesadaran untuk bertanya: "Telah seberapa besarkah kita memuliakan ibu bapak?". Boleh jadi kita sekarang mulai mengabaikan orang tua kita. Bisa saja saat ini mereka tengah memeras keringat banting tulang mencari uang agar studi kita sukses. Sementara kita sendiri mulai malas belajar dan tidak pernah menyesal ketika mendapatkan nilai yang pas-pasan. Bahkan, dalam shalat lima waktunya atau tahajudnya mereka tak pernah lupa menyisipkan doa bagi kebaikan kita anak-anaknya.

Tetapi, berapa kalikah dalam sehari semalam kita mendoakannya? Shalat saja kita sering telat dan tidak khusyuk. Ada seorang perwira tinggi yang sukses dalam karirnya, ternyata memiliki jawaban yang "sederhana" ketika ditanya seseorang, "Waktu kecil apakah Bapak pernah bercita-cita ingin jadi seorang jenderal?" Pertanyaan itu dijawabnya dengan tegas; "Saya tidak pernah bercita-cita seperti itu, kalau pun ada yang saya dambakan ketika itu, bahkan hingga sekarang, saya hanya ingin membahagiakan kedua orang tua saya!" Betapa dengan keinginan yang sepintas tampak sederhana, ia memiliki energi yang luar biasa, sehingga mampu menempuh jenjang demi jenjang pendidikan dengan prestasi gemilang.

Bahkan ketika mulai masuk dinas ketentaraannya, ia mampu meraih jenjang demi jenjang dengan gemilang pula, hingga sampai pada pangkat yang disandangnya sekarang. Subhanallah. Karena itu, kita jangan sampai mengabaikan amalan yang sangat disukai Allah ini. Rasulullah SAW menempatkan ibu "tiga tingkat" di atas bapak dalam hal bakti kita pada keduanya. Betapa tidak, sekiranya saja kita menghitung penderitaan dan pengorbanan mereka untuk kita, sungguh tidak akan terhitung dan tertanggungkan. Seorang ulama mengatakan, "Walau kulit kita dikupas hingga telepas dari tubuh tidak akan pernah bisa menandingi pengorbanan mereka kepada kita.

" Berbulan-bulan kita bebani perut ibu, hingga ketika ia miring dan bergerak jadi sulit, karena rasa sakit menahan beban kita di dalam perutnya. Berjalan berat, duduk pun tak enak, tapi ia tak pernah kecewa. Sebaliknya, ia selalu tersenyum. Begitu pun ketika melahirkan., ibu kita benar-benar dalam keadaan hidup mati. Darah berhamburan, keringat bercucuran. Sakit tiada terperi. Namun, ia ikhlas! Manakala melihat kita si jabang bayi, hilanglah semua penderitaan. Senyum pun tersungging, walau tubuh lunglai tatkala mendengar tangisan kita, yang kelak banyak menyusahkannya. Ingatkah kita ketika masih bayi? Kepalanya kita kencingi. Badannya kita beraki. Sedang tidur pun kita bangunkan. Kita suruh ia mencuci popok hampir setiap waktu.

Tiba waktu sekolah, orang tua kita harus peras keringat banting tulang, bahkan mau bertebal muka, ngutang ke sana ke sini. Semuanya dilakukan agar anak-anaknya bisa sekolah, bisa berpakaian seragam yang pantas. "Rutinitas" itu berlangsung bertahun-tahun, mulai dari SD, SMP, SMA, hingga kita kuliah. Bahkan, setelah menikah pun tetap saja kita menyusahkan dan membebani mereka dengan aneka masalah. Benar-benar tak tahu malu, kita menengadahkan tangan pada kedua orang tua sekian tahun lamanya. Semua contoh di atas seharusnya menyebabkan kita bisa mengukur diri, apa yang bisa kita lakukan untuk keduanya selama ini? Betapa sering kita mengiris-iris hatinya. Mulai dari tingkah-laku kita yang jauh dari kesopanan, ucapan yang terkadang menyakitkan, hingga perlakuan kita yang sering merendahkan.

Yang lebih kurang ajar lagi, kita sering memperlakukan mereka sebagai pembantu. Bahkan ada di antara kita yang malu mempunyai orang tua yang lugu dan sederhana. Tentu kita terlahir ke dunia tidak untuk berlaku rendah seperti itu. Allah dan Rasul-Nya tidak akan pernah ridha melihat kelakuan tersebut. Dari sinilah kita harus berusaha menjaga hubungan baik dengan mereka, karena di sana terbuka pintu surga. Ridha orang tua adalah ridha Allah SWT. Betapapun ada satu dua perlakukan orang tua kita yang kurang berkenan di hati, tapi ingatlah bahwa darah dagingnya mengalir dan melekat di diri kita? Makanan yang sehari-hari kita makan pun adalah buah dari tetesan keringatnya.

Alangkah lebih baik apabila kita bersabar dan teruslah panjatkan doa. Karena itu, jangan tunda waktu untuk membahagiakan mereka. Mohonkanlah maafnya atas segala kesalahan dan kelalaian kita selama ini. Karena siapa tahu Allah akan segera menakdirkan perpisahan antara kita dengan mereka untuk selama-lamanya. Kalau keduanya sudah berada di dalam kubur, bagaimana kita bisa mencium tangannya. Kita tidak bisa mempersembahkan bakti apapun kalau mereka sudah terbujur kaku. Jangan enggan untuk menjaga, membela, membahagiakan, memuliakan, menghormati, dan berbuat yang terbaik terhadap keduanya. Jangan lupa untuk selalu mendoakan keduanya agar mendapatkan khusnul khatimah. Mudah-mudahan perjuangan kita yang ikhlas dalam memuliakan keduanya membuat Allah ridha, sehingga Ia berkenan mengangkat derajat mereka berdua dan kita pun menjadi hamba yang berada dalam naungan cahaya ridha-Nya. Wallahu a'lam bish-shawab.

Selasa, 27 Desember 2011

KARAKTERISTIK ORANG TUA

       Seorang Muslim sudah semestinya memikirkan masa depan dengan melakukan invesment -bukan dengan stock portofolio, 401K, rumah ataupun saving account, tetapi dengan shodaqoh jariyah, menyebarkan ilmu yang bermanfaat, dan membina anak yang sholeh/-ah. Ketiga aktivitas ini ternyata tercakup dalam proses pendidikan anak dan apalagi Alhamdulillah banyak diantarakita yang telah dikaruniai anak, sehingga saya tergerak untuk merangkum 6 karakteristik kepribadian seorang ayah idaman.


1. Keteladanan
       Suatu pagi, saya terperanjat ketika melihat cara putriku memakai sepatunya. Ia langsung memasukkan kakinya ke dalam sepatu tanpa melepas talinya. Rupanya selama ini ia memperhatikan bagaimana cara saya memakai sepatu. Karena malas membuka simpul tali sepatu, sering kali saya langsung memakainya tanpa membuka dan mengikat simpul tali sepatu. Saya berusaha melarangnya dengan memberikan penjelasan bahwa cara memakai sepatu seperti itu bisa mengakibatkan sepatu cepat rusak. Namun hasilnya nihil. Ini merupakan satu contoh nyata bhw anak, terutama pada usia dini, mudah sekali mencontoh orangtuanya. Tidak perduli apakah itu benar atau salah. Nasehat kita tidak ada manfaatnya, jika kita tetap melakukan apa yang kita larang.

       Apakah kita sudah memberikan teladan yang terbaik kepada anak-anak kita? Apakah kita lebih sering nonton TV dibandingkan membaca Al-Quran atau buku lain yang bermanfaat? Apakah kita lebih sering makan sambil jalan dan berdiri dibandingkan sambil duduk dengan membaca Basmallah? Apakah kita sholat terlambat dengan tergesa-gesa dibandingkan sholat tepat waktu? Apakah bacaan surat kita itu-itu saja?

       Allah S.W.T berfirman dalam surat ash-shaff 61:2-3: "Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamuperbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apayang tiada kamu kerjakan. "

       Allah S.W.T juga mengingatkan untuk tidak bertingkah laku seperti BaniIsrail dalam firmanNya dalam surat Al-Baqoroh 2:44 "Mengapa kamu suruhorang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban) mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir?"

2. Kasih Sayang dan Cinta
       Kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang yang tulus merupakan dasar penting bagi pendidikan anak. Anak-anak usia dini tidak tahu apa namanya, tapi dengan fitrahnya mereka bisa merasakannya. Lihatnya bagaimana riangnya sorot mata dan gerakan tangan serta kaki seorang bayi ketika ibunya akan mendekap dan menyusuinya dengan penuh kasih sayang.

       Bayi kecilpun sudah mampu menangkap raut wajah yang selalu memberikan kehangatan, kelembutan, dan kasih sayang dengan tulus, apalagi mereka yang sudah lebih besar.
Rasulullah SAW pada banyak hadith digambarkan sebagai sosok ayah, paman, atau kakek yang menyayangi dan mengungkapkan kasih sayangnya yang tulus ikhlas kepada anak-anak. Sebuah kisah yang menarik yang diceritakan oleh al-Haitsami dalam Majma'uz Zawa'id dari Abu Laila.

       Dia berkata: "Aku sedang berada di dekat Rasulullah SAW. Pada saat itu aku melihat al-Hasan dan al-Husein sedang digendong beliau. Salah seorang diantara keduanya kencing di dada dan perut beliau. Air kencingnya mengucur, lalu aku mendekati beliau. Rasulullah SAW bersabda, 'Biarkan kedua anakku, jangan kau ganggu mereka sampai ia selesai melepaskan hajatnya.' Kemudian Rasulullah SAW membawakan air." Dalam riwayat lain dikatakan, 'Jangan membuatnya tergesa-gesa melepaskan hajatnya.'

       Bagaimana dengan kita? Sudahkan kita ungkapkan kecintaan kita yang tulus kepada anak-anak kita hari ini?

3. Adil
       Siapa yang belum pernah dengar kata sibling rivalry dan favoritism? Jika belum dengar, maka ketahuilah! Siapa tahu kita termasuk orang yang telah melakukannya. Seringkali kita terjebak oleh perasaan kita sehingga kita tidak berlaku adil, misalnya karena anak kita yang satu lebih penurut dibandingkan anak yang lain atau karena kita lebih suka anak perempuan daripada anak laki-laki dll.

       Rasulullah SAW bersabda: "Berlaku adillah kamu di antara anak-anakmu dalam pemberian." (HR Bukhari)

       Masalah keadilan ini dikedepankan untuk mencegah timbulnya kedengkian diantara saudara. Para ahli peneliti pendidikan anak berkesimpulan bahwa faktor paling dominan yang menimbulkan rasa hasad/ dengki dalam diri anak adalah adanya pengutamaan saudara yang satu di antara saudara yang lainnya.

       Anak sangat peka terhadap perubahan perilaku terhadap dirinya. Jika kita lepas kontrol, sesegera mungkin untuk memperbaiki, karena anak yang diperlakukan tidak adil bisa menempuh jalan permusuhan dengan saudaranya atau mengasingkan diri (menutup diri dan rendah diri).

4. Pergaulan dan Komunikasi
       Seringkali kita berada dalam satu ruangan dengan anak-anak, tapi kita tidak bergaul dan berkomunikasi dengan mereka. Kita asyiik membaca koran, mereka asyiik main video game, atau nonton TV.

       Banyak ahadith yang menggambarkan bagaimana kedekatan pergaulan Rasulullah SAW dengan anak-anak dan remaja. Beliau bercanda dan bermain dengan mereka.
Bagaimana dengan kita yang sudah sibuk kuliah sambil bekerja plus 'ngurusin' IMSA (**smile**)? Mana ada waktu untuk bercengkrama dengan anak-anak? Sebenarnya ada waktu, jika kita mengetahui strateginya. Misalnya, sewaktu menemani anak bermain CD pendidikan di komputer, kita bisa menjelaskan cara mengerjakan/bermainnya, lalu memberi contoh sebentar, lantas bisa kita tinggalkan. Begitu pula dengan buku bacaan dan permainan lainnya. Repotnya ada sebagian ayah yang tidak mau berkumpul dengan anak-anak, terutama yang menjelang dewasa karena takut kehilangan wibawa atau kharismanya. Ini pandangan yang keliru. Yang lebih tepat adalah kita jaga keseimbangan, artinya kita tidak boleh terlalu kaku dalam memegang kekuasaan dan kharisma, tetapi juga tidak boleh terlalu longgar.

5. Bijaksana Dalam Membimbing
       Rasulullah SAW bersabda: "... Binasalah orang-orang yang berlebihan ..." (HR Muslim). Jadi metoda yang paling bijaksana dalam mendidik dan mengarahkan anak adalah yang konsisten dan pertengahan - seimbang, yakni tidak membebaskan anak sebebas-bebasnya dan tidak mengekangnya; jangan terlalu sering menyanjung, namun juga jangan terlalu sering mencelanya. Bila ayah memerintahkan sesuatu kepada anaknya, hendaknya ayah melakukannya dengan hikmah, penuh kasih sayang, dan tidak lupa membumbuinya dengan canda seperlunya. Jelaskan hikmah dan manfaatnya, sehingga anak termotivasi untuk melakukannya. Jangan lupa juga untuk memperhatikan kondisi anak dalam melaksanakan perintah atau aturan tersebut.

       Imam Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa melatih pribadi perlu kelembutan, tahapan dari kondisi yang satu ke kondisi yang lain, tidak menerapkan kekerasan, dan berpegang pada prinsip pencampuran antara rayuan dan ancaman.

6. Berdoa
       Para nabi selalu berdoa dan memohon pertolongan Allah untuk kebaikan keturunannya. "Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala." (Ibrahim:35)
"Segala puji bagi Allah yang telah menganugrahkan kepadaku di hari tua(ku)Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku, benar-benar Maha Mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan sholat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku." (Ibrahim:39-40)

Senin, 26 Desember 2011

AKHLAK SESAMA MUSLIM


            Diantara cerminan akhlak yang begitu penting terhadap sesama Muslim dalam muamalah adalah :

1.     Memberi bantuan harta dan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
Rasulullah SAW bersabda :
“ Barangsiapa berada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya, dan barangsiapa menghilangkan satu kesusahan dari oarng Muslim dari berbagai kesusahan dunia, maka Allah menghilangkan darinya satu kesusahan dari berbagai kesusahan pada hari kiamat.”

2.     Menyebarkan salam
Rasulullah SAW bersabda :
“ Kalian tidak masuk surga sehingga kalian beriman, dan kalian tidak beriman sehingga kalian saling mencintai. Maukah kuberitahukan sesuatu kepada kalian, jika mengerjakannya kalian saling mencintai ? Sebarkanlah salam.” (HR. Muslim)

3.     Menjenguknya jika ia sakit
Rasulullah SAW bersabda :
“ Jenguklah orang yang sakit, berikanlah makanan kepada orang yang kelaparan serta bebaskanlah kesukaran orang yang mengalami kesukaran.” (Diriwayatkan Bukhari)

4.     Menjawabnya jika ia bersin
Rasulullah SAW bersabda :
“ Jika salah seorang diantara kalian bersin, hendaklah mengucapkan, ‘Alhamdulillah’, dan hendaklah saudara atau sahabatnya menjawab, ‘Yarhamukallah’, dan hendaklah dia (yang bersin) mengucapkan. ‘ yahdikumullah wa yuslihu balakum’.”

5.     Mengunjunginya karena Allah
Rasulullah SAW bersabda :
“ Barangsiapa menjenguk orang sakit atau mengunjungi saudaranya karena Allah, maka ada penyeru yang menyerunya, ‘Semoga engkau bagus dan bagus  pula perjalananmu, serta engkau mendiami suatu tempat tinggal di surga’.” (HR. Ibnu Majah dan At-Tirmidzi)

6.     Memenuhi undangannya jika dia mengundangmu
Rasulullah SAW bersabda :
” Hak orang Muslim atas Muslim lainnya ada lima : Menjawab salam, mengunjungi yang sakit, mengiring jenazah, memenuhi undangan, dan menjawab orang yang bersin.” (HR. Asy-Syaikhani)
Tambahan dari HR. Muslim “apabila ia minta nasihat, maka berilah dia nasihat”

7.     Tidak menyebut-nyebut aibnya dan menggunjingnya, secara terang-terangan atau sembunyi-sembunyi
Rasulullah SAW bersabda :
“ Setiap Muslim atsa Muslim lainnya haram darahnya, hartanya, dan kehormatannya.”

8.     Berbaik sangka kepadanya.
Rasulullah SAW bersabda :
“ Jauhilah persangkaan, karena persangkaan itu perkataan yang paling dusta.” (Muttafaq Alaihi)

9.     Tidak boleh memata-matai dan mengawasinya, baik dengan mata maupun telinga
Rasulullah SAW bersabda :
“ Janganlah kalian saling mengawasi, janganlah saling mencari-cari keterangan, janganlah saling memutuskan hubungan, janganlah saling membelakangi dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara.” (Muttafaq Alaihi)
10.  Tidak membocorkan rahasianya
Rasulullah SAW bersabda :
“ Barangsiapa menutupi aib saudaranya, maka Allah akan menutupi aibnya di dunia dan akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

11.  Menampakkan kecintaan dan kasih sayang dengan memberikan hadiah kepadanya
Rasulullah SAW bersabda :
“ Saling berilah hadiah, niscaya kalian saling mencintai.” (HR. Baihaqi)
“ Jika salah seorang diantara kalian mencintai saudaranya, maka  hendaklah dia memberitahukannya.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Umar bin Khattab RA berkata : “Tiga hal yang bisa memupuk kecintaan saudaramu : engkau mengucapkan salam kepadanya jika engkau bersua dengannya, memberinya tempat duduk, dan memanggilnya dengan nama yang paling dicintainya.”

12.  Tidak mengghibahnya dan membelanya jika ada seseorang yang mengghibahnya.

13. Memaafkan kesalahan-kesalahannya
      Rasulullah SAW bersabda :
“ Tidaklah Allah memberi tambahan kepada seorang hamba yang suka memberi maaf melainkan kemuliaan.” (HR. Muslim)
Ø Kisah Bilal dengan Abu Dzar Al-Ghifari

13.  Mendo’akannya dari tempat yang jauh
Rasulullah SAW bersabda :
“ Do’a seseorang bagi saudaranya dari tempat yang jauh adalah terkabulkan. “ (HR. Muslim)

Ø Kisah pengintaian Abdullah bin Amr bin Ash terhadap seorang calon penghuni surga. Yang menjaminnya masuk surga adalah : “Yang selalu kujaga ialah, tak pernah aku menutup mata untuk tidur, sebelum melepaskan perasaan tak baik terhadap sesama Muslim.”

Minggu, 25 Desember 2011

KADO TERINDAH

Aneka kado ini tidak dijual di toko. Anda bisa menghadiahkannya setiap saat,dan tak perlu membeli ! Meski begitu, delapan macam kado ini adalah hadiah terindah dan tak ternilai bagi orang-orang yang Anda sayangi.
1. KEHADIRAN
Kehadiran orang yang dikasihi rasanya adalah kado yang tak ternilai harganya. Memang kita bisa juga hadir dihadapannya lewat surat, telepon, foto atau faks. Namun dengan berada disampingnya. Anda dan dia dapat berbagi perasaan, perhatian, dan kasih sayang secara lebih utuh dan intensif. Dengan demikian, kualitas kehadiran juga penting. Jadikan kehadiran Anda sebagai pembawa kebahagian.
2. MENDENGAR
Sedikit orang yang mampu memberikan kado ini, sebab, kebanyakan orang Lebih suka didengarkan, ketimbang mendengarkan. Sudah lama diketehui bahwa keharmonisan hubungan antar manusia amat ditentukan oleh kesediaan saling mendengarkan. Berikan kado ini untuknya. Dengan mencurahkan perhatian pada segala ucapannya, secara tak langsung kita juga telah menumbuhkan kesabaran dan kerendahan hati. Untuk bisa mendengar denganbaik, pastikan Anda dalam keadaan betul-betul relaks dan bisa menangkap utuh apa yang disampaikan. Tatap wajahnya. Tidak perlu menyela, mengkritik, apalagi menghakimi. Biarkan ia menuntaskannya. Ini memudahkan Anda memberi tanggapan yang tepat setelah itu. Tidak harus berupa diskusi atau penilaian. Sekedar ucapan terima kasihpun akan terdengar manis baginya.
3. D I A M
Seperti kata-kata, didalam diam juga ada kekuatan. Diam bisa dipakai Untuk menghukum, mengusir, atau membingungkan orang. Tapi lebih dari segalanya. Diam juga bisa menunjukkan kecintaan kita pada seseorang karena memberinya "ruang". Terlebih jika sehari-hari kita sudah terbiasa gemar menasihati, mengatur, mengkritik bahkan mengomeli.
4. KEBEBASAN
Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan. Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya? Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta. Makna kebebasan bukanlah, " Kau bebas berbuat semaumu." Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan.
5. KEINDAHAN
Siapa yang tak bahagia, jika orang yang disayangi tiba-tiba tampil lebih ganteng atau cantik ? Tampil indah dan rupawan juga merupakan kado lho. Bahkan tak salah jika Anda mengkadokannya tiap hari ! Selain keindahan penampilan pribadi, Anda pun bisa menghadiahkan keindahan suasana dirumah. Vas dan bunga segar cantik di ruang keluarga atau meja makan yang tertata indah, misalnya.
6. TANGGAPAN POSITIF
Tanpa, sadar, sering kita memberikan penilaian negatif terhadap pikiran, sikap atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita. Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan tulus. Cobalah ingat,berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda. Ingat-ingat pula, pernahkah Anda memujinya. Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf ), adalah kado cinta yang sering terlupakan.
7. KESEDIAAN MENGALAH Tidak semua masalah layak menjadi bahan pertengkaran. Apalagi sampai Menjadi cekcok yang hebat. Semestinya Anda pertimbangkan, apa iya sebuah hubungan cinta dikorbankan jadi berantakan hanya gara-gara persoalan itu? Bila Anda memikirkan hal ini, berarti Anda siap memberikan kado " kesediaan mengalah" Okelah, Anda mungkin kesal atau marah karena dia telat datang memenuhi janji. Tapi kalau kejadiannya baru sekali itu, kenapa mesti jadi pemicu pertengkaran yang berlarut-larut ? Kesediaan untuk mengalah juga dapat melunturkan sakit hati dan mengajak kita menyadari bahwa tidak ada manusia yang sempurna didunia ini.
8. SENYUMAN
Percaya atau tidak, kekuatan senyuman amat luar biasa. Senyuman, terlebih yang diberikan dengan tulus, bisa menjadi pencair hubungan yang beku, pemberi semangat dalam keputus asaan. pencerah suasana muram, bahkan obat penenang jiwa yang resah. Senyuman juga merupakan isyarat untuk membuka diri dengan dunia sekeliling kita. Kapan terakhir kali anda menghadiahkan senyuman manis pada orang yang dikasihi