Home


"Barangsiapa yang tidak mau bersabar mengecap pahitnya menuntut ilmu, niscaya sisa usianya akan berada dalam kebodohan... Dan barangsiapa yang bersabar dalam menuntut ilmu, niscaya ia akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat..." [Kitab Al Majmu' : 1/38]

Senin, 31 Desember 2012

‘PARABOLA’ PEMBAWA PETAKA


Suatu ketika aku kedatangan seorang tamu. Wajahnya sudah tak asing lagi bagiku, karena sebelumnya aku memang sudah mengenaknya dengan baik. Aku mengenalnya sebagai pribadi yang sangat mulia. Kami telah menjadi sahabat sejak lama. Namun, setelah masing-masing berkeluarga akhirnya kami jarang melakukan komunikasi.
Saat pertama kali melihatnya, tergambar dalam raut wajahnya sebuah kebingungan yang mendalam, seakan-akan ia sedang dengan memikul  seluruh kesusahan dunia yang sangat berat. Aku pun menyambutnya dengan hangat dan kumuliakan ia layaknya tamu istimewa. Mungkin ia sengaja datang setelah lama berpisah, untuk menumpahkan segala kegundahan-gulananya yang ada dalam pikirannya kepadaku.
Ia duduk dihadapanku sambil menghela nafas panjang. Kemudian meminta izin kepadaku untuk menceritakan beban pikiran yang sedang ia alami.
Berikut penuturannya :
“Saudaraku, aku sering mendengar nasihat Para Alim tentang akibat buruk yang akan diterima oleh para pelaku maksiat. Meraka telah mewanti-wanti sembari mengingatkan tentang siksa neraka yang akan di dapat. Tapi, dahulu aku sering merasa bahwa apa yang mereka ceritakan itu sama sekali tidak sesuai dengan kenyataan dan terkesan dilebih-lebihkan.
Di antara pelajaran dan nasehat yang mereka sampaikan ialah mengenai pengaruh buruk menonton tayangan yang disiarkan melalui saluran Parabola. Aku memang mendengar nasehat tersebut dari seorang kawan saat duduk-duduk di Masjid, tapi nasehat itu tidak aku gubris sama sekali dan kuabaikan begitu saja. Berulang kali teman-temanku tersebut memberikan artiket tentang kisah yang menimpa para penikmat siaran parabola. Yang bagiku isinya sama sekali tidak bisa dipastikan kebenarannya. Ketika membacanya, aku pun berpikir bahwa kisah-kisah yang mereka tunjukkan hanyalah kisah rekaan belaka.
Di dalam batinku aku bertanya, ‘kenapa mereka sibuk menceramahiku dengan beragam kisah-kisah seperti itu. Dan kenapa juga mereka ikut campur dalam urusan rumah tanggaku.’ Semua nasihat dan artikel itu sama sekali tidak bisa menghalangiku untuk membeli perangkat parabola itu. Satu keinginan yang sudah sejak lama aku pendam.
Obrolan kawan-kawan rekan kerjaku mengenai pertandingan sepak bola yang sedang marak, semakin menumbuhkan keinginanku untuk menyaksikannya secara langsung lewat parabola. Demikian juga dengan keinginan untuk menyaksikan acara-acara yang lain sebagai penambah pengetahuanku. Sehingga itu semua semakin membulatkan tekadku untuk membelinya.
Pada akhirnya ‘tamu’ itu pun hadir di tengah-tengah keluarga kami. Antenanya pun terpasang menjulang di atas atap. Mengetahui hal itu, para tetangga kembali menesehatiku, bahkan meraka memperingatkanku agar takut kepada Allah dan mengingat akan akibat buruk yang akan menimpa. Namun aku tetap tak bergeming, sementara setan terus berbisik dan membela keputusan yang telah au ambil ini. Ah, seandainya aku tidak melakukannya saat itu..!!
Kemenangan semu yang aku peroleh atas para tetanggaku membuat anak dan istriku terlihat senang, aku merasa bahwa mereka pantas mendapat hadiah atas dukungan yang mereka berikan kepadaku.
Ketamakan dan kegandrunganku terhadap acara olahraga pun semakin besar. Karena memang acara itu termasuk yang diminati oleh kebanyakan orang, kecuali bagi orang yang mendapatkan kasih sayang Allah. Satu hal yang membuatku semakin percaya diri, bahwa aku bisa menjawab berbagai pertanyaan yang dilayangkan oleh rekan-rekan  kerjaku dari apa yang aku saksikan lewat acara-acara yang disiarkan melalui parabola.


Seiring barjalannya waktu, aku mulai meresa ada yang kurang apabila tidak menyaksikan acara-acara itu, dan baru terpenuhi setelah menyaksikannya. Tapi tak bisa kubantah bahwa sejak hari pertama kedatangan parabola di rumahku, langkah-langkahku untuk mendatangi Masjid guna melaksanakan shalat berjamaah dan kebiasaan membaca Al Qur’an menjadi semakin berat. Kemalasan menghinggapiku dan yang ada hanyalah keinginan untuk terus setia berada di depan telavisi.
Perlahan aku mulai meninggalkan Masjid dan para jamaahnya, menuntut ilmu, dan belajar Al Qur’an. Memang ada perasaan gundah dan gelisah, namun rasa malas memaksaku untuk terus berada dekat dengan televisi.
Hari dan bulan berlalu, sementara aku dan keluarga semakin tidak bisa berpisah dengan perangkat terkutuk itu, kecuali hanya pada waktu kerja. Pada malam hari, aku sering tidur mendahului anak-anak karena kelelahan dan mereka terus menyaksikan acara-acara itu hingga larut malam.
Tuntutan hidup membuatku haru bekerja hingga larut malam dan memiliki waktu yang sebentar untuk beristirahat, sehingga akhirnya jarang lagi menyaksikan acara televisi. Aku sering pulang larut malam bahkan hingga menjelang subuh, rutinitas seperti itu berjalan cukup lama dan berimbas pada kurangnya perhatianku terhadap kondisi keluargaku.
Hingga pada suatu malam yang kelabu, seperti biasa aku pulang larut malam. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju kamar kerjaku dan merebahkan tubuhku di atas kasur, tanpa seorang pun menyadari kehadiranku. Tiba-tiba aku terperanjat, karena mendengar suara desahan dan rintihan yang tidak teratur dari dalam rumah. Aku mencoba mendengarkannya dengan seksama suara itu, tapi semakin lama semakin tidak jelas iramanya. Aku pun semakin penasaran, seumur- umur baru saat itu aku merasa curiga dan ragu. Akupun mulai menyelidiki dan mencari tahu dari mana suara desahan itu berasal.
Kuayunkan langkah menuju kamar istriku dan perlahan kubuka pintunya. Aku merasa lega karena istriku sedang tertidur pulas. Semua keraguan dan pikiran seten yang meresuki pikiranku bahwa istriku sedang berselingkuh pun seketika hilang. Kupanjatkan puji dan syukur kepada Allah Ta’ala. Aku lantas kembali ke kamar kerjaku. Namun sesampainya di kamar kerja, suara itu masih terdengar.
Sekali lagi aku bangkit dari kasur. Aku berpikir mungkin anak-anak kecapean dan ketiduran, sehingga lupa mematikan televisi. Aku kemudian berjalan dengan pelan untuk mengetahui asal suara itu.
Akhirnya ketika aku sampai di depan sebuah kamar. Setelah berdiri sejenak, aku begitu yakin bahwa suara-suara desahan itu berasal dari dalam. Dengan perlahan kuraih gagang pintu dan kucoba membukanya, namun ternyata pintu itu terkunci rapat. Kecurigaanku kembali muncul dan hatiku kembali was-was. Karena waktu sudah begitu larut malam dan sebentar lagi mungkin akan terdengar adzan subuh. Akhirnya kuputuskan untuk kembali ke kamar saja dan menanyakan masalah tersebut pada anak-anak esok hari.
Namun sebelum sampai di kamar, aku teringat bahwa kamar itu mempunyai pintu lain yang terletak di samping. Segera saja aku manuju ke pintu itu. Sesampainya di sana, kuraih gagang pintu dan kubuka kemudian masuk ke dalam tanpa mendapatkan kesulitan.
Dalam keremangan, mulailah kulihat dan kucermati pemandangan yang ada di hadapanku. Ya Allah…, pemandangan apa ini!! kupukul-pukul kepalaku untuk menyadarkanku, kalau-kalau aku sedang bermimpi. Tapi tidak, itu bukan mimpi!! Aku sedang menyaksikan musibah besar dan aib yang menjijikkan! Benar-benar musibah dan prahara. Sebuah akhir yang begitu pahit.”


Sambil menahan isak tangis ia kemudian melanjutkan ceritanya,
“Sahabat, aku menyaksikan anak laki-lakiku sedang menyetubuhi kakak perempuannya. Ia telah merenggut keperawanan dan kehormatan saudaranya sendiri. Aku tak lagi kuasa menahan kebingungan dari apa yang kulihat, sehingga akupun berteriak sekeras-kerasnya dan jatuh pinsan.
Mendengar suara gaduh itu, istriku pun terbangun. Ia juga ingin mengetahui apa sebenarnya yang terjadi. Akhirnya ia pun melihat kejadian yang di luar perkiraannya, sebuah kenyataan yang memperlihatkan atas kelakuan anak laki-lakinya yang sedang merusak kehormatan saudara perempuannya sendiri.
Hanya seribu penyesalan yang terucap untuk parangkat laknat itu. Perangkat yang telah mengoyakkan kehormatan keluarga kami dan menimpakan aib yang begitu besar. Perangkat yang dengan seiring berjalannya waktu, telah menghancurkan kesucian dan nama baik keluargaku, untuk diganti dengan aib yang memilukan.
Seorang gadis berusia 20 tahun sedang menanti kelahiran anaknya, karena telah dihamili oleh saudaranya sendiri yang biadab. Kebahagiaan di tengah keluarga yang dinanti-nanti dengan impian-impian yang indah di masa depan telah sirna karena kehadiran perangkat bangsat itu.
Disela-sela itu, aku kembali teringat dengan kegigihan  orang-orang di sekitarku yang tiada henti-hentinya menasehati dan memperingatkanku untuk tidak memasang perangkat parabola itu. Namun saat ini, aku tak mampu lagi menahan perihnya penderitaan yang kuhadapi hingga titik nadir ini. Aku telah jatuh ke dalam bencana yang tidak ada jalan keluarnya.
Pada akhirnya, perangkat itu memang aku singkirkan dari rumahku, tetapi setelah aroma busuk atas aib itu memenuhi setiap sudut dari rumah kami.
Seribu penyesalan untuk kehormatan keluarga yang telah hilang. Seribu penyesalan untuk nilai-nilai agama yang telah kulupakan. Dan seribu penyesalan untuk nasihat yang pernah disampaikan kepadaku, namun tak ku gubris sama sekali. 

-=o0o=-

Inilah kisahku dan hari ini ku ceritakan. Sungguh sejatinya kata-kata yang keluar dari mulutku untuk mengungkapkannya terasa berat daripada mengangkatbaja, kejadiannya lebih menyakitkan dibanding sabetan cemeti di tubuh, dan aibnya melekat kuat pada kehormatan diri dan keluargaku. Tapi, aku rela menceritakan semuanya dengan harapan ada orang yang mau mendengarkannya, dan bisa mejadi pelajaran bagi orang-orang yang lalai. Jika tidak kuceritakan, aku takut akan semakin banyak orang yang mengalami nasib yang sama dengan yang kualami.
Mungkin masih banyak orang yang memiliki cerita serupa dengan yang kualami, tapi mungkin mereka enggan untuk menceritakannya atau mungkin mereka tak punya kekuatan hati untuk membukanya.
Saat inii aku hanya bisa pasrah kepada Allah Ta’ala. semoga dengan menceritakan kejadian ini aku bisa terbebas dari tanggungjawab yang kelak akan ditanyakan Allah kepadaku, juga terbebas dari alasan orang-orang disekitarku. Wassalam….

2 komentar:

  1. efek negatif dari teknologi.,,
    pencemaran otak keluarga kita dari tayangan televisi

    BalasHapus
    Balasan
    1. betul tu.. makanya harus pinter2 manfaatinya, n jangan mau dimanfaatkan

      Hapus